Cerpen >> Aku lebih sayang cinta kedua ku, bukan Cinta pertama ku..!!!


SMK Pelita bangsa, selama 3 tahun aku mendapatkan ilmu di situ, setiap hari aku tak pernah absen untuk mengisi bangkuku, saat ini aku kelas 3, les tambahan sampe sore membuat ku letih. Opss maaf aku belum sempat memperkenalkan diriku, nama ku Dara Octaria, aku berumur 17 tahun, aku punya sahabat yang bernama Mila, hampir 2 tahun kami bersama – sama.


Dengan langkah gontai, aku memasuki ruangan besar yang hampir 6 bulan ku masuki. Ruangan dengan cat biru dan dihiasi oleh kaca yang tak tembus pandang. Tidak tahu kenapa hari ini aku merasa agak tidak enak, mungkin karena semalam aku bertengkar dengan pacar ku di telepon. Wajah lelah dan malas, tertampang jelas, mila yang duduk disamping ku pun menegur ku.


“hey Dara, kenapa wajah mu??? Hmmm kayaknya ada sesuatu yg terjadi tadi malam”

Mila, dia selalu menebak apa yang aku rasakan, dia selalu benar.

“Biasala mil” sambil melihat hujan yang mulai menangis manis mengaliri SMK ku.

“Biasalah, tiap hari kamu bilang hanya biasalah ra, selalu biasala, buat aku itu ga wajar. Kamu tau hubungan cinta itu ga seharusnya gitu”


Aku hanya bisa menghembuskan nafas besar, dan tetap memandangi hujan yang seolah – olah membela Mila.


“aku hanya bisa kasi saran ra, kenapa klian ga putus aja sih???”

“putus kamu bilang mil, 1 tahun kami jalanin mil, aku ga bisa putus dari fino”

“tapi ra, kamu lihat kan tiap hari gini – gini aja, fino ga ada waktu buat kamu, perna sekali aja dia sms kamu di siang hari, atau perna kah kalian pergi keluar. Gak kan ra, dy cuman mentingin kerjaannya aja.”


Aku hanya bisa terdiam membisu saat mila membongkar kepahitan itu, tak sengaja air mata ku keluar.


“Ra, maafin aku kalau aku mencampuri hubungan kamu dengan fino, tapi aku sahabat mu, aku ga bisa ngelihat kamu gini – gini aja kan ra???”


Bel masuk les pun berbunyi, percakapan kami terpotong. Wajah lelahku dan kantung mataku sulit untuk diajak kompromi.



Fino dia adalah cinta pertama ku, 1 tahun sudah kami jalanin kisah cinta ini. Fino adalah cwok yang membuat aku jatuh dipelukannya. Aku merasa nyaman bersamanya, dan aku mencintainya. Sebalikanya juga fino sangat menyangi ku, dia selalu memperhatikan ku, dia selalu tau bagaimana memperlakukan wnita.

Namun itu semua berubah, semuanya hilangan seperti setumpuk pasir yang terhembus angin kencang.


Saat itu fino mendapatkan pekerjaan yang menuntut dia harus pulang malam, hampir tiap hari tidak ada waktu sedikit pun buat aku. Aku selalu yang pertama memulai untuk mengirim pesan singkat untuknya, namun fino selalu membalasnya lewat jam 12 malam.

Awalnya aku selalu menasehati pikiran ku, kalau fino pasti tidak ada waktu untuk memblasnya karena pekerjaannya. Namun aku jenuh, aku bosan, aku tidak tau apa yang dia lakukan disana.


Ini adalah hari yang kutunggu – tunggu, hari pengumuman kelulusan ku. Aku dan mila menunggu surat yang akan di bagikan kepala sekolah. Akhirnya nama ku dipanggil


“Dara Octaria, ini surat pengumuman mu nak “

“terimakasi pak”

Ku gengam erat surat itu, namun belum ku buka.

“Ra, cepat buka surat itu” mila membisik di kuping ku

“gak mil, aku bukanya saat surat mu juga ada disini ya”

Mila hanya bisa terdiam dengan wajah pucatnya,

“Mila, ini nak surat punya mu”


Setelah mila memegang suratnya kami membukanya bersama – sama, ternyata kami LULUS

Senang rasanya meliahat surat itu yang tertuliskan LULUS, cepat – cepat aku mengambil telpon gengamku, dan aku mengetik sms buat Fino


“sayang, aku lulus” dan berharap ada balasan dari sms fino.

Hampir 3 jam sudah ku tunggu – tunggu tidak ada balas dari fino. Akhirnya aku kembali mengirim pesan

“sayang, hari ini kita keluar yuk, aku kangen kamu, lagian hari ini aku pengen kamu didekat ku”


Setelah aku mengirimnya, tiba – tiba suara hp ku berbunyi, dan itu sms dari fino, aku senang sekali.

Aku langsung membukanya, dan membacanya.


“Aku capek, kamu tau kan aku pulang malam. Lain kali aja ya” tersentak aku saat membacanya, 4x aku membacanya terus – menerus. Telpon gengam ku basah, ternyata air mata ku jatuh untuk kesekian kalinya. Aku mencoba tegar, mencoba melupakan semua, dan berniat untuk tidak menggangu fino kembali.


Mila dan aku, kami mahasiswi baru.

Universitas Bina Bangsa , aku dan mila mendapatkan satu ruangan. Saat kami masuk ruangan itu, tersentak aku langsung menarik tangan mila keluar ruangan.


“Mil, kita ga salah ruangan kan??? Kok semuanya cwok.”

“gak kayaknya ra, bentar..” sambil membuka tas, mila mengambil secarik kertas.

“lihat nih ra, P1 ruangan 311” kami berdua melihat ruangan yang tadi kami masuk dan diatas pintu tertulis 311. Kami pun kembali memasuki ruangan tersebut. Dan duduk paling depan. Namun beberapa menit kemudian 4 orang cewek masuk ke ruangan ini. Aku merasa lega, akhirnya kami berkenalan dengan mereka. Sudah 5 hari aku menjalanin dunia baru sebagai mahasiswi baru. Dan sudah 5 hari aku tidak berhubungan dengan fino. Namun ada sesorang yang merebut hati ku kembali.


Pagi cerah itu aku berlari untuk masuk ke ruangan yang kecil namun dapat memuat 20 orang. Saat aku masuk, pertama aku melihat dia sedang duduk tepat disebalah bangku ku. Aku hanya tersenyum dan duduk disebelahnya.


“hai aku adli “ sambil mengulurkan tangannya dia memperkenalkan diri.

“Aku Dara “ sambil tersenyum. Hanya percakapan singkat itu menjadi percakapan manis dan berkesan yang membuat dia jatuh cinta pada ku.


Dari hari itu dia selalu mendekati ku, namun tidak ada sama sekali rasa di hati ku buat dirinya. Tapi saat di dekatnya aku berubah, aku lupa caranya menangis, aku lupa caranya meratap, karena aku yang dulu selalu kenal air mata. Aku hanya tertawa di sampingnya sehingga hati ku mati rasa akan luka yang diberikan fino.


Kamu, yang tak perna terlewat di sorotan mataku yang telah merebut hatiku.

Adli telah merebut hati ku, aku mencintainya, aku takut kehilangan dia, aku sayang padanya. Itu yang ingin ku ucapkan pada mu adli, namun aku tak berani untuk memulainya duluan.

Aku kembali menjalanin tugas rutin ku yaitu pergi ke kampus. Adli menghampiri ku dan mengucapkan kata – kata itu.


“Dara octaria, kamu cewek yang telah membuat hidup ku menjadi sesuatu, maukah kau menjadi pacar ku” aku hanya terdiam membisu, otak ku kosong, mata ku kosong.

“hmm Adli, aku butuh waktu untuk menjawabnya” . “baik ra aku akan menunggunya, kapan pun itu “. Mila, hanya dia yang aku butuh sekarang. aku cemas, gugup menunggu mila sampai kekampus. Sedetik pun tatapan ku tidak bisa berpaling dari pintu ruangan kami. Mila pun datang, kutarik tangannya

“mil, adli nembak aku!!!, apa yang harus ku katakan, kamu taukan aku masih sama fino”

Mila hanya tersenyum “Ra, kamu masih mengharapkan fino, emangnya klian masih bisa dibilang pacaran??? Klian ga perna berkomunikasikan”

“Tapi mil,”

“Ra, dengar ya, bahagia itu sederhana, aku melihatnya itu saat kamu disebelah Adli. Mendingan kamu pikir aja dulu ya Ra”


Bahagia itu sederhana ra, benar kata mila, aku bahagia saat adli bersama ku, walau itu sederhana. Pria dengan tatapan senduh yang mengacaukan sel – sel hati ku

Adli, ku terima dia menjadi pacar ku. aku juga tak mengerti perasaan ku. namun aku tau rasa ini bertumbuh lebih cepat dari yang ku duga setalah bertemu dengan mu. Kamu cinta kedua ku , aku tak mau sedetik pun berpisah dengan mu.


Ku hempaskan tubuh ku diatas tempat tidur yang begitu nyaman, lelahku sirna. Tiba – tiba handphone ku berbunyi, pesan singkat dari Fino,


“Ra, sayang. Gimana kabar mu sayang, aku kangen kamu”

Dalam hati ku, barukah kau mengingat diriku, siapa aku di mata mu.

“baik” hanya itu yang ku balas. Kemudian dia membalasnya.

“kamu kenapa sayang, kok beda”


Beda kamu bilang, pernakah kamu melihat tangis ku ini untuk mu. Mungkin kamu akan bahagia melihat aku menangis.

“maaf fino, aku bukan siapa – siapa mu lagi, dan sejujurnya aku sudah punya yang laen disini. Dan itu semua kesalahan mu” ku kirim pesan itu buat fino. Dan beberapa jam kemudian dia membalasnya. “apa Ra, tega kamu ya ra, kamu tau kan aku disini kerja. Kamu bilang itu kesalahan aku!!!”


Tak ku balas lagi pesannya, berkali – kali dia mengirimkan pesan, dan menelpon ku. aku hanya ingin putus darinya. Apakah bonekah kecil mu ini dilarang untuk bahagia, apakah wayang yang sering kau mainkan ini dilarang untuk bebas. Aku sakit saat kau melantarkan aku, aku ngerti kamu kerja, namun apa ini semua alasan yang bisa ku terima.


Cukup sudah fino, aku tidak ingin mengenal air mata lagi, aku ingin tertawa. Mengapa kau selalu butuh aku saat kau ingat saja. Kenapa tidak kau ingat diriku.

Adli, ternyata dibalik dia ada sebuah kenangan cinta. Adli hampir sama dengan ku, dia memiliki sesosok wanita yang dia cintai dulu. Hampir 2 tahun mereka menjalaninya. Namun mereka putus. Saat ku tanya kenapa mereka putus adli berkata, karena wanita itu tidak mencintai aku, aku ga mau membuang – buang waktu ku bersamanya. Terus aku kembali bertanya, kenapa bisa kalian bertahan sampai 2 tahun, adli menjawab karena aku mencintainya.


Aku meneteskan air mata, Adli, kenangan dia hampir sama dengan kenangan ku bersama fino. Fino tidak benar – benar mencintai ku namun aku bertahan karena aku mencintainya.


Adli menghapus air mata ku dan berkata, “Ra, semua orang pasti belajar dari pengalaman masa lalunya, aku tau kamu butuh waktu untuk ngelupain semua masa lalu mu. Dan sabaliknya juga aku. Namun begitu cobalah kita jalanin cinta kita ini, kamu maukan Ra??”

Aku memeluk Adli, sambil berkata “Mau dli, aku mau “

“Yauda jangan nangis kayak anak kecil, entar makin kecil mau”

Aku memukul dadanya dengan pelan dan tersenyum manis. Cinta memang selalu menuntut kesederhanaan.


Tahu – tahu , sosok dia menjadi sangat penting dalam setiap bangun pagi hingga tidur malamku. Sedetik, semenit, sejam, seharian hanya dia yang begitu rajin menghampiri otak ku. hingga menjadi Cinta yang luar biasa bagi ku.

Dari boneka kecil mu yang mendapatkan bahagia

Terimakasih Cinta



Terima kasih buat Sai Durgeshwari, udah mau Cerpennya di posting disini. :)
mohon maap bila ada kata2 yang salah dan tidak berkenan.

No comments:

Post a Comment

Thanks To Visit My Blog.. Comment and Share.. ^_^